welcome ;)

Tampilkan postingan dengan label Forum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Forum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Ini Lamborghini Seharga Rp2,4 Miliar

Lamborghini terbaru ini hanya diproduksi 20 unit dan akan mulai dipasarkan pada Oktober.

VIVAnews - Lamborghini mengumumkan tengah memproduksi Sesto Elemento, mobil balap mewah besutan pabrikan asal Italia. Rencananya, mobil yang hanya diproduksi 20 unit ini akan mulai dipasarkan pada Oktober tahun ini.

Laman Top Speed, Jumat 6 Mei, melaporkan bahwa Lamborghini rencananya membandrol harga 1,9 juta euro, atau sekitar Rp2,4 miliar untuk kurs saat ini.

Mengapa mobil ini sampai miliaran rupiah? Lamborghini menggunakan serat karbon versi terbaru, yaitu serat karbon khusus yang diperkuat dengan plastik (CFRP). Lamborghini telah sukses membangun mobil ini dan melakukan berbagai macam uji coba.

Bagian yang dirancang paling unik adalah seluruh rodanya terbuat dari serat karbon, dan knalpotnya terbuat dari bahan yang disebut pyrosic. Ini adalah komposit keramik kaca yang dapat menahan panas sangat tinggi.

"Lamborghini Sesto Elemento menunjukkan bagaimana masa depan mobil supersport, mobil rekayasa yang sangat ringan dan dikombinasikan dengan kinerja ekstrem," kata Presiden dan CEO Automobili Lamborghini, Stephan Winkelmann.

Sesto Elemento dilengkapi dengan mesin V10 yang merupakan hasil pengembangan Lamborghini dengan Boeing. Mesin ini bisa mengeluarkan tenaga 570 HP. Ini memungkinkan Sesto Elemento berlari dari 0 hingga 96,5 kilometer per jam hanya dalam 2,5 detik. Sedangkan kecepatan maksimal mobil ini di atas 300 kilometer per jam.

Sesto Elemento menggunakan transmisi e-gear yang dikendalikan oleh shifter pada kolom kemudi. Bagian lain, Sesto Elemento menggunakan teknologi roda all-wheel drive hasil pengembangan Audi.

Dengan harga Rp2-3 miliar, mobil ini akan berhadapan langsung dengan Koenigsegg Agera R, yang sudah terkenal dengan teknologi serat karbonnya.

Berikut foto-foto Sesto Elemento yang diambil dari Top Speed.






http://otomotif.vivanews.com/news/read/218855-ini-lamborghini-seharga-rp2-4-miliar

5 Fakta Mobil Supercepat Lamborghini


Mobil Le Mans versi Murcielago R-GT bisa berlari dengan kecepatan 370 kilometer per jam.

VIVAnews - Sebagian besar setuju bahwa Lamborghini adalah mobil supercepat yang sangat menarik. Banyak orang kaya yang tidak ragu membeli mobil ini untuk koleksi. Berikut lima fakta yang perlu Anda ketahui tentang mobil asal Italia itu, seperti dikutip dari planetoddity.com:

Fakta pertama

Lamborghini merupakan salah satu mobil tercepat di dunia. Mobil Le Mans versi Murcielago R-GT bisa berlari dengan kecepatan 370 kilometer per jam. Selain itu, Lamborghini juga memiliki Murcielago LP640 yang bisa diajak lari 340 km per jam. Kedua model ini menggunakan mesin V12 dengan kapasitas lebih dari 6.000 cc.

Fakta kedua

Tahukah Anda bahwa Lamborghini dibangun oleh perusahaan independen, tapi bangkrut pada 1978 dan dijual ke Chrysler. Pada 1998, perusahaan Jerman, Audi AG, mengambil alih dan menjadi pemilik Lamborghini.

Fakta ketiga

Sebagian besar model Lamborghini diproduksi dengan mesin 12 sillinder dalam konfigurasi V (V12), meskipun model terbarunya, Gallardo, menggunakan mesin V10. Yang jelas, Lamborghini tak pernah memproduksi mobil dengan mesin kurang dari V8.

Fakta keempat

Lamborghini pertama kali diproduksi pada 1963 dan dengan nama 350GTV. Dengan kecepatan tertinggi 280 km per jam, 350GTV sangat cepat pada tahun itu. Mobil pertama Lamborghini yang bisa lari lebih cepat dari 300 km per jam diproduksi pada 1974, yaitu model Countach.

Fakta kelima

Countach, Diablo, dan Murcielago semua memiliki pintu gunting--yang memutar dan maju pada engsel dekat pintu depan, tetapi tidak bagi Gallardo. Countach dan Diablo tak lagi diproduksi, sehingga mobil Lamborghini dengan pintu gunting saat ini hanya Murcielago.



http://otomotif.vivanews.com/news/read/220306-5-fakta-mobil-supercepat-lamborghini

Tingkah Lucu Bhiksu Cilik


Di Korea Selatan, ulang tahun Buddha dirayakan dengan festival selama seminggu.

VIVAnews - Umat Budha seluruh dunia merayakan hari kelahiran-pencapaian kesadaran Buddha-wafat Buddha Sakyamuni pada Selasa, 10 Mei 2011. Di Korea Selatan, hari besar ini dirayakan dengan festival selama seminggu yang biasanya berakhir pada hari yang sama dengan Puja Waisak di daerah lain di Asia.

Ulang tahun Buddha merupakan hari libur Buddha terbesar di Korea. Sepanjang jalan kota dan kuil dihiasi lentera untuk perayaan selama seminggu. Di Vihara Sekte Jogye di Seoul, selama satu bulan sebelum perayaan dimulai, sejumlah anak laki-laki menghabiskan waktu di vihara. Di dalam vihara, anak-anak tersebut belajar mendalami kehidupan keseharian para bhiksu dan memperdalam ajaran Buddha.

Tingkah laku para calon bhiksu kecil sungguh jenaka. Ada yang menangis pada saat rambutnya dicukur bersih atau tertidur pada saat sesi istirahat. Mereka juga menonton tayangan tiga dimensi di SK Telecom Ubiquitous Museum di Seoul.


http://dunia.vivanews.com/news/read/220323-foto-menggemaskan-bhiksu-cilik

Minggu, 24 April 2011

Bunga-bunga Cantik nan Mematikan

Cantik dan mematikan. Dua kata inilah yang mewakili berbagai macam tanaman yang dipamerkan di Bogota, Kolombia beberapa waktu yang lalu ini. Pameran yang bertempat di Botanic Garden ini, menampilkan beragam spesies tanaman pemangsa serangga. (Foto: AP Photo/ William Fernando Martinez)



Tanaman pemakan serangga, Drosera Binata, turut dipamerkan dalam pameran tanaman karnivora di Botanic Garden di Bogota, Rabu (29/12). Foto: AP Photo/ William Fernando Martinez





Seekor serangga dimakan oleh Drosera Binata saat pameran tanaman karnivora di Botanic Garden di Bogota, Kolombia, Selasa (28/12). Foto: AP Photo/ William Fernando Martinez






Seekor lalat dimakan oleh Dionaea Muscipula saat pameran tanaman karnivora di Botanic Garden di Bogota, Kolombia, Selasa (28/12). Foto: AP Photo/ William Fernando Martinez





Seekor kupu-kupu dimakan oleh Drosera Binata saat pameran tanaman karnivora di Botanic Garden di Bogota, Kolombia, Selasa (28/12). Foto: AP Photo/ William Fernando Martinez





http://foto.vivanews.com/read/2788/44926-bunga-bunga-cantik-nan-mematikan

Makhluk Penghuni Dasar Laut Terdalam


VIVAnews - Puncak Gunung Everest, yang berada di ketinggian 8.848 meter merupakan titik tertinggi yang ada di planet Bumi. Lalu, di manakah titik terendah yang ada di permukaan bumi?

Dengan kedalaman mencapai 11.030 meter di bawah permukaan laut, palung Mariana merupakan kawasan terendah di permukaan Bumi. Palung ini berada di samudera Pasifik, di sekitar timur laut Indonesia atau selatan Jepang.

Saking dalamnya, tekanan air di dasar palung itu mencapai 8 ton per inci persegi. Artinya, ada beban seberat 8 ton yang ditampung oleh ruang seluas 1 inci persegi.

Sebagai gambaran, di permukaan laut, tekanan udara yang mengelilingi tubuh kita adalah 15 pound atau 0,0075 ton per inci persegi. Manusia tanpa perlengkapan pernafasan bantuan tak akan mampu bertahan pada tekanan 355 pound atau 0,1775 ton per inci persegi. Apalagi 8 ton.

Lalu, adakah kehidupan di kedalaman laut seperti itu? Ternyata ada, dan luar biasa indahnya. Berikut foto: Misteri Hewan Laut Dalam.

Sebagai contoh, paraliparis Copei Copei. Ia hidup di kedalaman 200 – 1692 meter. Ukurannya 17cm. Hewan lain, misalnya Glowing Sucker Octopus (Stauroteuthis Syrtensis) hidup di kedalaman 2500 meter. Ukurannya bisa mencapai 50cm.

Dumbo Octopus (Grimpoheuthis), bisa hidup di kedalaman 300-5000 meter. Ukuran hingga hewan ini mencapai 150 cm. Ada pula Hirondellea gigas yang bisa hidup di kedalaman 10.900 m, dan masih banyak lagi. (Frozenly.com, Edliadi)



http://teknologi.vivanews.com/news/read/201259-foto--makhluk-penghuni-dasar-laut-terdalam

Kodok Tumbuhkan Gigi dalam 20 Juta Tahun


VIVAnews - Gastrotheca Guentheri atau kodok pohon ternyata sangat unik. Dari seluruh spesies kodok yang ada saat ini, ia merupakan satu-satunya kodok yang memiliki gigi di rahang atas dan bawah.

Kembali ditemukannya gigi bawah pada kodok setelah ratusan juta tahun memunculkan perdebatan sengit seputar evolusi menghilangnya sesuatu bisa berlanjut dengan evolusi pemunculannya kembali.

Bukti baru yang ditemukan pada Gastrotheca guentheri juga menunjukkan bahwa ada celah pada teori yang digunakan sebelumnya.

“Kami mengombinasikan data dari fosil dan DNA dengan metode statistik terbaru. Ternyata, kodok kehilangan gigi di rahang bawah sekitar 230 juta tahun lalu,” kata John Wiens, ketua tim peneliti dari Stony Brook University, New York, seperti dikutip dari BBC, 1 Februari 2011.

Namun, pada laporannya yang dipublikasikan di jurnal Evolution, Wiens menyebutkan, dalam 20 juta tahun terakhir, spesies kodok Gastrotheca guentheri (G. guentheri) berhasil memunculkan kembali deretan gigi rahang bawah mereka yang hilang.

Sebelumnya, kalangan ilmuwan berpendapat bahwa hilangnya sesuatu selama evolusi tidaklah bisa dikembalikan. Teori ini disebut juga sebagai Dollo’s Law. Namun munculnya gigi bawah G. guentheri setelah lebih dari 200 juta tahun bisa membuat teori tersebut dipertimbangkan kembali.

“Hilangnya gigi bawah milik nenek moyang kodok modern dan kemunculannya kembali di kodok G. Guentheri menyediakan bukti kuat bahwa secara anatomi kompleks, sesuatu yang hilang akibat evolusi bisa muncul kembali,” kata Wiens. “Bahkan setelah lenyap selama ratusan juta tahun.”

Wiens yakin bahwa re-evolusi ini bisa dinilai sebagai celah pada Dollo’s Law. “Celah ini mungkin juga berlaku untuk kasus lain, misalnya munculnya kembali jari-jari milik kadal yang hilang,” ucap Wiens. (hs)



http://teknologi.vivanews.com/news/read/202424-kodok-tumbuhkan-gigi-dalam-20-juta-tahun

Pakai Jam Tangan Casio, Ditahan di Guantanamo

VIVAnews - Sebagian besar tahanan di penjara khusus teroris di Guantanamo ternyata tidak bersalah. Sebagian diantara mereka adalah anak usia remaja dan orang tua yang sudah sakit-sakitan, ditangkap hanya karena mengenakan jam tangan merk Casio buatan tahun 1980.

Hal ini diungkapkan dalam dokumen laporan tahanan Guantanamo yang dibocorkan di laman WikiLeaks, dilansir dari kantor berita The Telegraph, Senin, 25 April 2011. Dalam dokumen tersebut diungkapkan latar belakang penangkapan 780 orang yang telah ditahan di Guantanamo, serta berbagai kondisi medis dan transkrip interogasi.

Dari jumlah tersebut, menurut WikiLeaks, hanya sekitar 220 tahanan yang benar-benar dinyatakan berbahaya dan dicap sebagai teroris internasional. Sementara itu, sebanyak 380 orang adalah perwira rendahan yang masih diragukan keterlibatannya dalam jaringan teror. Mereka juga dipertanyakan penahanannya di Guantanamo oleh berbagai pihak.

Pengungkapan yang mengagetkan adalah sedikitnya 150 orang tahanan di Guantanamo adalah warga Afghanistan dan Pakistan yang tidak bersalah. Mereka sebagian besar berprofesi sebagai petani, koki restoran, atau sopir yang ditangkap secara acak oleh tentara AS dan ditransfer ke penjara Guantanamo.

Sebanyak 20 diantaranya adalah beberapa remaja berusia tidak lebih dari 14 tahun, beberapa orang pensiunan, bahkan terdapat seorang yang berusia 89 tahun dengan masalah kesehatan serius.

Penangkapan mereka juga bisa dibilang tidak masuk di akal. Menurut WikiLeaks, sebagian di antara mereka ditangkap di Afghanistan oleh tentara AS hanya karena mengenakan jam tangan merk Casio buatan tahun 1980.

Jam tangan lawas ini, dalih tentara AS, adalah tipe jam tangan yang biasa digunakan oleh para militan al-Qaeda untuk menghitung waktu peledakan. Jam tangan ini juga dapat diubah fungsinya menjadi detonator ledak oleh para militan.

Penjara Guantanamo dibuka pada Januari 2002 di sebuah pangkalan militer AS di Kuba, pasca penyerangan yang meruntuhkan gedung WTC di New York pada 11 September 2001. Di penjara ini ditahan ratusan orang yang diduga teroris tanpa terlebih dulu menjalani proses pengadilan.

Karena metode interogasi yang tidak berperikemanusiaan, penjara ini menuai banyak kritik dari negara-negara di Eropa dan Timur Tengah. Pada kampanyenya, Presiden AS Barack Obama berjanji akan menutup penjara, namun hingga saat ini hal itu belum juga dilakukannya. (eh)



http://dunia.vivanews.com/news/read/216514-pakai-jam-tangan-casio--ditahan-di-guantanamo

Selasa, 12 April 2011

Keunikan Pengikatan Kaki di China (Chinese Foot Binding)

Kaki hasil foot binding. Dari kaki berukuran normal menjadi sangat pendek/kecil


Foot Binding atau pengikatan kaki adalah tradisi menghentikan pertumbuhan kaki perempuan zaman dahulu yang terjadi di China. Tradisi ini telah menghadirkan penderitaan besar bagi para perempuan China pada masa itu. Pengikatan kaki biasanya dimulai sejak anak berumur antara empat sampai tujuh tahun. Masyarakat miskin biasanya terlambat memulai pengikatan kaki karena mereka membutuhkan bantuan anak perempuan mereka dalam mengurus sawah dan perkebunan.

Pengikatan kaki dilakukan dengan cara membalut kaki dengan ketat menggunakan kain sepanjang sepuluh kaki dengan lebar dua inchi, melipat empat jari kaki ke bagian bawah kaki dan menarik ibu jari kaki medekati tumit. Hal ini membuat kaki menjadi lebih pendek. Pembalut kaki semakin diketatkan dari hari ke hari dan kaki dipaksa memakai sepatu yang semakin kecil. Kaki harus dicuci dan dipotong kukunya karena kalau tidak akan membuat kuku-kuku kaki di kaki yang diikat menusuk ke dalam dan menimbulkan infeksi. Jika balutan terlalu ketat maka dapat timbul buku-buku di kaki yang harus dipotong dengan pisau. Kemudian kaki juga harus dipijat dan dikompres dingin dan panas untuk sedikit mengurangi rasa sakit. Pengikatan kaki membuat siklus darah tidak lancar sehingga dapat membuat daging kaki menjadi busuk dan kaki dapat mengeluarkan nanah. Semakin kecil kaki seorang gadis maka akan semakin cantik ia dipandang. Panjang kaki seorang gadis hanya berkisar 10-15 sentimeter saja.

Pengikatan kaki sering menyebabkan kecacatan seperti kelumpuhan bahkan kematian anak-anak perempuan karena infeksi, namun hal ini telah dianggap normal. Pengikatan kaki juga menyebabkan perempuan sangat sulit berjalan dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal ini juga menyebabkan cacatnya para perempuan tua di China.
Pengikatan kaki dimulai pada masa akhir dinasti Tang (618-907) dan mulai menyebar pada golongan kelas atas sampai pada zaman dinasti Song (960-1297), pada zaman dinasti Ming (1368-1644) dan dinasti Qing (1644-1911), budaya mengikat kaki menyebar luas dalam mayoritas masyarakat China sampai akhirnya dilarang pada Revolusi Sun Yat Sen tahun 1911. Kelompok yang menghindari adat ini hanyalah bangsa Manchu dan kelompok migran Hakka yang merupakan kelompok paling miskin dalam kasta sosial China. Kebiasaan mengikat kaki ini berlangsung selama sekitar seribu tahun dan telah menyebabkan sekitar satu milyar wanita China mengalami pengikatan kaki.

Ada beberapa sumber yang mengulas tentang asal mula budaya ini. Legenda pertama adalah tentang seorang selir dari Pangeran Yao Niang yang berjalan dengan anggunnya dengan kaki diikat sehingga kaki diikat mejadi trend pada masa itu.

Legenda kedua mengatakan bahwa selir Yao Niang ini diperintahkan untuk mengikat kakinya supaya kaki terlihat seperti bulan. Legenda ketiga mengatakan bahwa mengikat kaki merupakan wujud simpati kepada Kaisar wanita. Versi lain mengatakan bahwa tradisi mengikat kaki berasal dari kaki para penari-penari namun sepertinya hal ini tidak masuk akal mengingat wanita dengan kaki terikat sangat sulit untuk berjalan apalagi menari. Dari manapun asal tradisi ini, efek yang ditimbulkan sangatlah nyata. Pengikatan kaki membuat para istri dan para selir orang-orang kaya tidak dapat melarikan diri dari tindak pemukulan. Ajaran Confucius pada saat itu menitik beratkan kekuasaan laki-laki di atas perempuan sebagai dasar dari urutan kehidupan sosial.



Pengikatan kaki dimulai dari kalangan atas atau golongan terpandang. Hal ini membuat perempuan menjadi perempuan yang tergantung dan tidak berguna di luar rumah, menyulitkan bagi orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan untuk mengolah sawah atau perkebunan. Pengikatan kaki kemudian menjadi syarat pernikahan. Laki-laki tidak akan menikahi perempuan yang kakinya tidak diikat. Sehingga anak perempuan haruslah diikat kakinya supaya dapat dinikahi terutama dengan laki-laki kalangan menengah ke atas. Seorang ibu harus mengikat kaki anak perempuannya sebab kalau tidak maka anak perempuannya hampir pasti tidak akan menikah. Pengikatan kaki bahkan menjadi lambang kesucian, bahwa sekali diikat (dikunci) maka tidak akan bisa dibuka seperti sabuk kesucian.

Pada tahun 1895, komunitas anti-pengikatan kaki mulai terbentuk di Shanghai yang kemudian menjalar ke kota-kota lain dan bahkan di luar negeri. Alasan utama menentang pengikatan kaki adalah penderitaan yang dirasakan oleh perempuan seumur hidupnya. Mereka mulai membuat daftar orang-orang yang tidak akan mengikat kaki anak-anak perempuan mereka dan tidak akan menikahkan anak-anak laki-laki mereka menikahi perempuan yang diikat kakinya sehingga para orang tua tidak perlu kuatir anaknya tidak dapat menikah. Akhirnya pada tahun 1911 melalui Revolusi Sun Yat Sen, tradisi pengikatan kaki benar-benar dilarang.


Bila alas kaki dilepas, bentuk kaki hasil foot binding sangat mengerikan



http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=90184

Ternyata Salah Satu Karya Musik Pertama Belanda Gunakan Nama Indonesia

Kolonialisme Belanda memang mengeruk sumber daya Indonesia. Tetapi Indonesia ternyata juga merupakan sumber ilham komponis Belanda. Salah satu karya musik pertama Belanda yang digubah berdasarkan Indonesia adalah Elégie Saïdjah, karya komponis Richard Hol.

Pada tahun 1860 terbit roman Max Havelaar karya Multatuli yang merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker. Pada tahun itu juga terbit sebuah karya musik untuk instrumen gesek diiringi piano. Elégie Saïdjah, demikian judul karya itu, diciptakan oleh Richard Hol dan jelas bersumber pada roman Multatuli. Itulah karya musik klasik pertama yang bersumber pada Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia.

Henk Mak van Dijk, seorang pianis Belanda, menulis buku berjudul Wajang Foxtrot. Di situ dia menjelaskan asal usul karya ini. Dalam novel Max Havelaar terdapat bagian yang sangat terkenal, Saïdjah dan Adinda. Singkat ceritanya, Saïdjah pada usia 15 tahun pindah ke kota besar, karena di desa Badoer kerbau ayahnya terus-terusan dicuri. Dia bekerja di Batavia. Kepada kekasihnya Adinda dia berjanji akan pulang dalam tiga tahun untuk menikahinya.

Dalam perjalanan ke kota Saïdjah menjadi begitu sedih. Kemudian ia menyanyikan lagu berjudul Ik weet niet waar ik sterven zal artinya: entah di mana aku akan mati. Dengan lagu itu ia membayangkan semua kemungkinan bagaimana dirinya akan menemui ajal. Lebih dari itu tidak ada orang akan bisa mendengar keluh kesahnya. Hanya Adinda yang akan mendengarnya. Begini akhir lagunya:

Kalau saya mati di Badoer dan dikubur di luar desa, ke timur di dekat bukit yang berumput tinggi, maka kalau Adinda lewat, pinggir sarungnya akan bergeser lirih di sepanjang rumput. Itu yang akan saya dengar.

Kisahnya berakhir dengan tragis. Saïdjah kembali ke desa mendapati Adinda sudah pergi ke Sumatra. Saïdjah menyusul, dia bergabung dengan kalangan pemberontak. Di sebuah desa yang baru dibakar habis oleh tentara Hindia Belanda, Saïdjah mendapati jenazah Adinda yang kena siksaan. Dalam keadaan putus asa ia menghunjamkan diri kepada tentara yang menghandangnya dengan bayonet. Dengan begitu Saïdjah sampai pada ajalnya.

Cerita yang sangat terkenal ini merupakan ilham bagi komponis Belanda Richard Hol untuk menggubah sebuah karya musik yang berjudul Elégie Saïdjah, anak judulnya Ik weet niet waar ik sterven zal. “Panjangnya sekitar enam menit, dan menariknya terdapat versi untuk piano solo, versi untuk cello dan piano, kemudian versi untuk orkestra dan juga akan untuk klarinet dan piano,” demikian Henk.

Elégie Saïdjah juga terbit pada tahun 1860, tak lama setelah Max Havelaar terbit. Tapi sejak itu, karya ini dilupakan orang. Buku Wajang Foxtrot sekarang menerbitkan rekamannya. Bisakah dikatakan ini merupakan karya musik pertama di Belanda tentang Indonesia?

Henk Mak van Dijk membenarkan. “Karya ini digubah pada tahun 1860, jadi sudah sangat lama.” Richard Hol menulisnya tak lama setelah Max Havelaar terbit. Mungkin saja, seperti banyak orang Belanda lain, ia hanyut terbawa oleh buku itu dan oleh nasib malang para petani Jawa. Karenanya dia menggubah karya ini yang sedikit banyak berwarna sedih. Tampaknya dia memang satu-satunya komponis pada abad 19 yang melakukannya.

Pada abad 19 itu, gamelan Jawa dan Sunda mulai didengar orang di Belanda. Saat itu bisa dikatakan gamelan mulai berpengaruh pada dunia musik Belanda. Menarik untuk mengetahui adakah suara-suara gamelan juga terdengar dalam Elégie Saïdjah?

“Kalau kita dengar lagu ini,” demikian Henk, “maka jelas nuansa romantisnya.” Waktu itu Eropa memang berada pada puncak zaman romantis. Mungkin kedengarannya seperti karya-karya Brahms atau Schumann. Diawali dengan minor, lalu ada pula bagian mayornya. Nuansanya berat. “Pada saat itu sepertinya kita merasakan nasib tragis Saïdjah,” Henk Mak van Dijk berlanjut, “Kalau kita simak baik-baik akan terdengar semacam sentuhan gamelan. Pada bagian awal terdengar pizzicato, biola atau cello yang dipetik, ini menarik dan bisa diartikan sebagai gamelan.”

Di bagian tengah terdengar tremolo yaitu not-not yang dimainkan dengan cepat pada piano. Itu juga bisa didengar sebagai efek gamelan. “Menurut saya Richard Hol sendiri belum pernah mendengar gamelan,” Henk memastikan. Pada tahun 1852 ada gamelan yang dipamerkan di Delft, tapi itu cuma pameran. Gamelan pertama yang dimainkan, gamelan yang sangat bagus, datang dari Solo dan pentas pada pameran di Arnhem pada tahun 1878. Jadi 19 tahun setelah karya Richard Hol terbit. Maka dari itu bisa disimpulkan, waktu menggubah Elégie Saïdjah, Richard Hol belum pernah mendengar gamelan yang lengkap, tetapi bisa saja dia memainkan salah satu instrumen gamelan.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa karya Richard Hol ini tidak menggunakan unsur lima nada, unsur pentatonis yang dimiliki gamelan, seperti karya-karya komponis Barat lain yang memang dicipta sesudah tahun 1860.

Unsur gamelan baru terdengar pada karya-karya komponis Indisch seperti Constant van de Wall atau Paul Seelig yang juga diuraikan pada buku Wajang Foxtrot. Pada karya-karya mereka terdengar nada-nada pélog dan sléndro, itu jelas nada gamelan. Tapi pada karya Richard Hol ini tidak terdengar begitu. Yang jelas inilah karya pertama yang mengangkat masalah Hindia Belanda serta kisah Saïdjah dan Adinda.