welcome ;)

Tampilkan postingan dengan label wawasan nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawasan nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Khasiat Air Panas Alami di Tirtagangga

Bagi Anda pecinta alam, datanglang ke pemandian air panas alami di Cipanas, Garut. Pesonanya merupakan kesegaran yang mampu merasuk hingga menyegarkan seluruh tubuh. Keistimewaan berendam yang cukup lama, dapat membantu peredaran darah Anda menjadi lebih lancar mengalir, begitu juga dengan tulang-tulang dan seluruh persendian. Karena mengandung kadar magnesium yang tinggi berada di kaki Gunung Guntur, namun airnya tetap yang terbening di antara sumber air panas alam lainnya di Indonesia.

Kelelahan setelah menempuh perjalanan, baik dari Jakarta maupun dari Bandung hilang seketika. Merendam diri dengan air panas dengan kadar magnesium sulfat yang sangat tinggi, adalah terapi kesehatan bagi penyakit rematik, stroke, penyakit saraf, bahkan penyakit tulang seperti osteoporosis.

Berbeda dengan air panas Ciater yang mengandung belerang dan baik untuk kulit. Sedangkan air panas alami Cipanas, Garut, menyimpan potensi yang lebih besar, berkhasiat untuk terapi penyembuhan bagi organ di dalam tubuh.

Keberadaan kawasan Cipanas yang terletak di Kecamatan Tarogong memang tidak terlepas dari pesona wisata Kabupaten Garut. Dengan letaknya yang tak terlalu jauh dari pintu gerbang Kota Garut, atau enam km sebelum masuk Kota Garut dari arah Bandung maupun Jakarta, akan memudahkan perjalanan Anda ke sana.


sumber: mediaindonesia.com

Berselancar di Pulau Sibaranun Nias

Kegemaran berselancar di pantai Pulau Sebaranun, Nias banyak diminati para wisatawan lokal bahkan peselancar dunia. Gulungan ombak yang khas dari gelombang setinggi 2 meter di pantai tersebut menarik untuk diperhatikan.

Jika Anda berada di sana tentu akan menyaksikan para peselancar 'menari'. Keindahan 'tarian' mereka tampak pada upaya bertahan di atas gulungan ombak dengan memmainkan papan selancar.

Pulau ini tidak hanya diburu pecinta selancar, tetapi bisa dinikmati untuk pecinta selam (snorkeling) dan pehobi memancing. Selain itu, pemandangan dasar laut dengan berbagai jenis karang dan ikan yang masih perawan menjadi daya tarik tersendiri.Pantai yang mengelilingi Sibaranun berpasir putih cukup indah.

Pada pagi atau sore Anda bisa berjalan kaki mengitari pulau itu dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Tak perlu khawatir panas matahari karena dedaunan pohon nyiur yang tumbuh di sepanjang pantai menaungi pejalan kaki.

Selama ini kunjungan wisatawan ke Pulau Sibaranun hanya untuk wisatawan asing. Hal itu terlihat dari paket wisata yang ditawarkan ke pulau ini hanya bagi turis asing. Tempat dan penginapan memang disediakan khusus untuk para peselancar asing, seperti Tello Island Lodge yang berlokasi di Pulau Sibaranun.

Surga peselancar di Nias sebenarnya tidak hanya di Pulau Sibaranun, masih banyak lokasi yang juga memiliki ombak yang menantang. Tidak jauh dari Pantai Sibaranun ada Pulau Sifika, Sigata, Sibo'lo, dan Baluta yang memiliki pantai dan ombak yang hampir sama indahnya. (dok.mi/rmb)


sumber: mediaindonesia.com

Lembah Baliem Menyimpan Keajaiban


Pesona alam Baliem, Jayapura yang menakjubkan identik dengan pegunungan dan hutan-hutan rimbun. Berada di kawasan yang subur dan indah menjadikan Baliem sebagai keajaiban kaki langit.

Tanah Papua sangatlah istimewa. Apalagi dihuni oleh masyarakat khas pedalaman yang tetap menjalankan kegiatan sehari-harinya hingga acara ritualnya. Mereka selalu berperilaku demikian, meskipun dunia sudah "berlari" puluhan kali lebih cepat.

Lembah Baliem di Jayawijaya merupakan salah satu keindahan yang mampu membuat para pengunjung langsung jatuh cinta. Pemandangan alam ini sudah bisa Anda saksikan dari atas pesawat saat pertama kali memasuki kawasan Lembah Baliem.

Perlu Anda ketahui, di kawasan Lembah Baliem dihuni oleh tiga suku pedalam yang cukup terkenal. Di antaranya adalah Suku Dani, Suku Yali dan Suku Lani. Salah satu suku yang menjadi daya tarik wisatawan adalah Suku Dani yang berada di bagian tengah lembah. Wajar saja, jika Suku Dani sudah bisa mengenal hal-hal yang berbau materi.

Keunikan masyarakat Dani juga terlihat pada busana yang dikenakan. Mereka selalu menjaga tradisi mereka dengan memakai koteka atau Horim, yaitu penutup alat kelamin laki-laki. Adapun Rotali, sebagai rok yang terbuat dari tali atau rumput. (tamasya/rmb)


sumber: mediaindonesia.com

Kaimana, Eksotisme Alam Bahari


Oleh A Ponco Anggoro



Bukan tanpa alasan jika tahun 1960-an Alfian meromantiskan panorama Kaimana seperti penggalan lagu di atas. Keindahan alam bahari di bagian selatan Provinsi Papua Barat itu memang tak terbantahkan.

Keeksotisan Kaimana terbentang dari Pulau Venu di barat daya Kaimana hingga Teluk Triton di tenggara Kaimana.

Kaimana didiami komunitas yang beragam. Pendatang asal Pulau Jawa, Buton, Seram, dan peranakan China hidup rukun dengan warga asli yang terdiri atas delapan suku, yakni Mairasi, Koiwai, Irarutu, Madewana, Miereh, Kuripasai, Oboran, dan Kuri.

Kaimana yang luasnya 18.500 kilometer persegi dan didiami 42.488 jiwa penduduk menjanjikan beragam obyek wisata, yakni wisata alam, budaya, dansejarah. Bagi yang gemar menyelam, Selat Namatota dan Selat Iris di selatan Teluk Triton siap menyambut dengan segala pesona keindahan alam bawah laut. Di kedalaman 30 meter dari permukaan laut, Anda bisa menjelajah keasrian terumbu karang dan bercengkerama dengan aneka jenis satwa laut.

Conservation International Indonesia (CII) mencatat populasi ikan di daerah ini mencapai 228 ton per kilometer persegi, tertinggi di Asia Tenggara. "Keindahan ikan flasher (Paracellinus nursalim), yang berukuran mungil dan berwarna-warni, bisa dilihat saat menyelam di Kaimana," kata Andi Yasser Fauzan, Marine Conservation and Science Specialist CII di Kaimana.

Bagi yang tak menyelam, pantai berpasir putih, yang dinaungi pohon kelapa di sela tebing-tebing cadas di Selat Namatota, bisa meneduhkan pikiran. Di daerah Faranggara dan Miwara di Teluk Triton, kitadisuguhi pemandangan berupa hamparan laut dihiasi pulau-pulau kecil bertebing pipih tertutup pepohonan lebat. Burung endemik, seperti masariku berwarna putih dan burung rangkong warna-warni yang terbang bebas, menyuguhkan hiburan tersendiri. Saat cuaca baik dan laut tenang, paus bryde dan lumba-lumba akan muncul di Selat Namatota. Jika beruntung, bisa terlihat ikan mangiwang (Hemiscyllium henryi) yang bernama lokal hiu bodoh karena berjalan dengan sirip. Ikan itu tidak diburu sehingga kerap ditemui berenang dekat perahu nelayan.

Bagi peminat sejarah, ada aneka ragam lukisan manusia prasejarah di tebing-tebing cadas di Selat Namatota. Gambar wajah, matahari, dan cap telapak tangan merupakan bagian dari ribuan lukisan yang terukir di ceruk-ceruk cadas sepanjang 1 kilometer.

Gambar-gambar itu diperkirakan dibuat oleh manusia Austronesia sekitar 3.500 tahun silam saat mereka bermigrasi dari Taiwan ke Filipina, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di Desa Lobo, Teluk Triton, Distrik Kaimana, ada tugu "Fort du Bus" yang menandai benteng dan pos administrasi Hindia Belanda yang bernama Fort du Bus yang dibangun pada 1828.

Benteng ini ditinggalkan tahun 1835 saat wabah malaria membunuh sebagian besar tentara Belanda.

Adapun Pulau Venu menjadi tempat penyu bertelur, baik itu jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), maupun penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Sayangnya, untuk menikmati Kaimana perlu dana tak sedikit. Untuk menjelajah Teluk Triton yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Kaimana, wisatawan harus menyewa long boat milik nelayan dengan biaya minimal Rp 2,5 juta. Dana lebih besar dibutuhkan untuk ke Pulau Venu yang waktu tempuhnya lima jam. Harga tiket dari Ambon ke Kaimana Rp 1,6 juta. Kalau dari Makassar, tiketnya Rp 2,5 juta.

Sarana pendukung wisata juga masih minim. Penginapan hanya ada empat buah dan peralatan selam harus bawa sendiri.

"Kami masih memetakan obyek wisata serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Kantor pariwisata baru tiga bulan berdiri," kata Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kaimana Donesius Murmana.

Namun, turis-turis asing telah berdatangan. "Umumnya, pada September sampai Maret saat lautan teduh," kata Pelaksana Harian Kantor Pelabuhan Kaimana Thimus M Solossa.

Pemerintah perlu bahu-membahu dengan investor swasta untuk segera membenahi sarana dan prasarana wisata sebelum pesona Kaimana dan minat wisatawan keburu pudar.



sumber: tanahair.kompas.com

Kemurahan Alam Tengger yang Menakjubkan




Oleh Anwar Hudijono dan Dahlia Irawati

Jarum jam menunjukkan pukul 04.15. Dari atas Gunung Pananjakan (2.774 meter di atas permukaan laut) terlihat warna kuning membias di ufuk timur. Perlahan-lahan disusul warna jingga. Semakin lama membias warna merah. Tatkala Matahari menampakkan diri, langit pun terang.

Pada saat berbarengan terjadi perubahan di kawasan Laut Pasir atau Segara Wedi. Dari semula gelap, berangsur tampak gumpalan kabut putih berarak-arak. Kabut makin tipis dan terlihatlah Gunung Bromo (berwarna perak kecoklatan).

Di sebelahnya Gunung Batok terlihat hijau dengan galur-galur vertikal. Demikian pula Pegunungan Tengger yang mengelilingi Gunung Bromo terlihat hijau, kuning sehingga kontras dengan warna Bromo yang putih perak kecoklatan.

Sekitar 90 menit eksotika kawasan itu terlihat jelas. Kemudian, datanglah kabut putih menyelimuti sebagian kawasan itu. "Anda beruntung cuaca bagus sehingga bisa melihat kawasan Bromo dengan terang," ujar Misnan, penyewa kuda di Laut Pasir.

Javier Ginebreda (24), turis dari Barcelona, Spanyol, mengaku mendapat dua hal terindah dalam hidupnya. "Menyaksikan Spanyol menjadi pemenang Piala Dunia sama bagusnya dengan menyaksikan lanskap Bromo dan Semeru," kata Javier.

Gunung Bromo (2.392 mdpl) merupakan obyek wisata di Jawa Timur yang sudah dikenal secara internasional. Lokasinya bisa ditempuh dari empat penjuru, dari Lumajang, Malang, Pasuruan, atau Probolinggo.


Duajalur terakhir sudah lebih tertata, sedangkan jalur Lumajang dan Malang kurang didukung akses jalan dan sarana lain yang memadai.

Jalur Pasuruan bisa ditempuh dari Kota Pasuruan-Tosari-Pananjakan-Bromo sekitar 71 kilometer. Adapun dari Probolinggo-Tongas-Ngadisari-Bromo jaraknya 64 kilometer. Semua mobil pribadi harus berhenti di Tosari atau Ngadisari. Dilanjutkan ke Bromo-Pananjakan dengan wajib menyewa jip Hardtop Rp 300.000 maksimal untuk 5 orang. Jika mau sampai di Padang Savana, ditambah Rp 200.000. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga menyediakan asuransi bagi turis lokal Rp 4.500 dan asing Rp 24.000.

Di Tosari maupun Ngadisari tersedia hotel dengan tarif sekitar Rp 400.000 maupun home stay bertarif Rp 150.000-Rp 250.000 per kamar per malam.

Keunikan Bromo adalah Laut Pasir seluas 5.250 hektar yang hampir mengelilingi gunung tersebut. Ada banyak obyek wisata gunung berapi, seperti Gunung Kelud dan Ijen (Jawa Timur), Tangkubanparahu (Jawa Barat), Merapi (Jawa Tengah), tetapi yang memiliki hamparan laut pasir demikian hanya Bromo.

Tentu saja eksotika Bromo tidak hanya dilihat dari Pananjakan saat pagi hari. Dari titik Bromo bisa dilihat Pegunungan Tengger yang juga penuh pesona. Terlihat Gunung Batok yang memiliki galur-galur tertata rapi dan bagian atasnya datar menyerupai helipad. Puncak Gunung Semeru yang runcing sesekali menyembulkan asap.

Jika mau meluangkan waktu, bisa pergi ke Padang Savana yang berada di sisi utara Bromo, hamparan padang rumput yang luas. Saat angin bertiup, akan terlihat seperti lapisan buih yang berkejar-kejaran. Dan saat didekati, hamparan putih berubah jadi kuning karena rumput itu kering.

Di Padang Savana, sebelah-menyebelah adalah bukit yang hijau. Di sebelah kanan dari arah Bromo terlihat gundukan-gundukan bukit yang berundak-undak berwarna hijau seperti taman yang rumputnya dipangkas dengan mesin pemotong rumput. Masyarakat menyebutnya bukit Teletubbies karena bentuknya mirip dengan rumah film TV boneka Teletubbies. Segala pesona ini masih dilengkapi bunga warna-warni yang tumbuh secara alami dan kicau pelbagai macam jenis burung.

Tentu saja menaiki puncak Gunung Bromo adalah tujuan utama wisata. Tidak sulit untukmencapai puncaknya. Setelah berhenti di tempat parkir mobil di Segara Wedi, pengunjung berjalan sampai ke puncak sekitar 2,5 kilometer. Bisa juga menunggangi kuda yang disewakan Rp 50.000 sekali jalan. Kemudian naik setinggi sekitar 292 meter, termasuk lewat 249 anak tangga dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Sesampai di puncak, pengunjung akan menyaksikan lingkaran kawah, yang dari dasarnya menyemburkan asap putih berbau belerang.


sumber: tanahair.kompas.com

Kerinci, Sekepal Tanah Surga yang Terabaikan


Oleh Irma Tambunan dan Ilham Khoiri

Kerinci, di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat, bisa dibilang surga dunia wisata. Kawasan ini tak saja memiliki banyak pesona alam dan budaya, tetapi semuanya hadir bersama: gunung, danau, air terjun, kebun teh, hutan taman nasional, peninggalan bersejarah, dan seni tradisional.

Mari kita daki Bukit Kayangan, satu kawasan puncak di Sungai Penuh, pusat kota kabupaten yang telah dimekarkan dan berjarak 10 kilometer dari pusat kota.
Memandang ke arah barat, pepohonan rimbun memenuhi gugusan Bukit Barisan. Berpaling ke timur, Kota Sungai Penuh terhampar di sebuah lembah bepermukiman padat. Tampak pula Danau Kerinci dengan airnya yang kebiruan.

Di puncak bukit itu kita bisa merasakan udara dingin yang segar. Kabut dengan cepat menyelimuti seluruh pemandangan. Bak berada dalam dunia mimpi. "Bukit ini jadi favorit wisatawan yang ingin menikmati seluruh kawasan Kerinci dari kejauhan," papar Sofa, warga Sungai Penuh, awal Mei lalu.

Turun dari Bukit Kayangan, kita bisa menuju Kayu Aro, sentra pertanian hortikultura dan perkebunan teh di kaki Gunung Kerinci.

Hamparan kebun teh tua membentuk petak-petak seperti motif beludru. Tak hanya menawan, kebun ini juga punya banyak keunikan.

Didirikan Belanda tahun 1928, Kebun Teh Kajoe Aromenjadi satu hamparan teh terluas di dunia, 2.624 hektar, yang mencakup 29 desa. "Teh Kajoe Aro menjadi langganan para bangsawan di Eropa," kata Saiful Kholik Tanjung, Asisten Kepala Perkebunan Teh PTPN VI di Kayu Aro.

Di atas beludru hijau itu, Gunung Kerinci terlihat gagah. Menjulang setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut. Ini adalah gunung vulkanik tertinggi di Sumatera. Tak jauh dari kawasan ini terdapat Danau Gunung Tujuh pada ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut, sebagai danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara.

Indahnya....Kerinci terasa semakin sempurna ketika kita mengetahui bahwa daerah itu juga kaya akan seni dan budaya tradisional, terutama tari dan lagu, yang rutin digelar pada Festival Danau Kerinci di pelataran danau. Selain itu, ada pula sejumlah batu besar peninggalan zaman megalitik pada awal Masehi, Danau Kaca, Rawa Bento, Air Terjun Telung Berasap, dan Air Panas Sumurup.


Daftar wisata alam di Kerinci sekitar 20 obyek. Semuanya punya pesona kuat karena umumnya masih perawan alias terpelihara dengan baik.

Saking indah dan lengkapnya pesona alam di kawasan ini, muncul sebutan yang agak bombastis: Kerinci bagaikan sekepal tanah surga di dunia.

"Pokoknya, jangan mati sebelum ke Kerinci," demikian pesan Bustomi (45), warga Gunung Tujuh, Kerinci.

Sayangnya, berbagai potensi alam itu tak didukung infrastruktur memadai. Sarana pendukung seperti jalan raya, angkutan umum, dan penginapan kurang menunjang. Ini problem klasik yang menimpa banyak pengembangan wisata di Tanah Air. Soal akses jalan raya bisa menjadi masalah serius.

Kerinci saat ini bisa diakses dari tiga lokasi, yaitu dari Tapan dan Solok Selatan, Sumatera Barat, serta Bangko, Jambi. Di antara ketiga akses itu, hanya jalan dari Solok Selatan menuju Sungai Penuh yang kondisinya baik, walaupun berkelok-kelok. Sementara, dari Tapan dan Bangko, jalannya hancur-hancuran.
Jalan dari Kota Bangko menuju Kerinci sepanjang 60-an kilometer sudah lama rusak. Begitu pula ruas dari Tapan menuju Sungai Penuh. Lubang besar, aspal terkelupas dan retak-retak sangat mengganggu perjalanan.

Beberapa titik di jalanan yang berkelok-kelok di atas bukit itu juga longsor. Saat hujan deras, longsoran kerap menyelimuti badan jalan. Kendaraan sulit melintas, bahkan jika melintas bisa tertimbun reruntuhan tanah merah.

"Jalan di sini deg-degan terus. Takut tergelincir masuk jurang atau terkena runtuhan longsoran," ujar Faisal, pengunjung dari Jakarta.
Sebenarnya ada juga transportasi udara, dari Bandar Udara Depati Parbo di Sungai Penuh. Setelah hampir tiga tahun ditutup, bandara itu belakangan ini beroperasi kembali.

Perjalanan udara dari Kota Jambi ke Kerinci dapat ditempuh satu jam saja. Namun, frekuensi penerbangannya rendah. Sebulan terakhir ini satu-satunya maskapai penerbangan dari Jambi menuju Kerinci, Riau Airlines, bahkan tidak lagi beroperasi, dari semula dua kali seminggu.

Transportasi umum lainnya juga minim. Untuk menempuh perjalanan darat selama 10-12 jam dari Jambi ke Kerinci hanya tersedia sejumlah minibus dan bus ekonomi. Tingkat kenyamanannya jauh dari memadai.

Hotel yang berfasilitas baik masih terbatas. Tapi, di Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, ada sejumlah rumah warga yang dijadikan home stay.
Tamu bisa menginap di sana sambil larut dalam kehidupan warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani sayur.

Lemahnya infrastruktur membuat pesona alam Kerinci menjadi terabaikan, bahkan seperti terisolasi. Akibatnya, Kerinci belum menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestik, apalagi mancanegara.



sumber : tanahair.kompas.com