welcome ;)

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2010

BIARA KIYOMIZU

Simbol : Kejelasan, Ketenangan
Lokasi : Kyoto, Jepang





Kuil Kiyomizu-dera merupakan kuil Budha kuno, yang dibangun pada tahun 798 dan sudah 10 kali mengalami kerusakan atau terbakar akibat perang atau bencana alam. Di belakang kuil utama terdapat kuil Jishu-jinja yang disebut dengan Dewa Perjodohan, dan di depan kuil terdapat 2 batu yang sering disebut "Batu Buta" dan "Batu Peramal Cinta".
Konon kabarnya menurut penduduk setempat dengan menutup mata berjarak 100 m kita berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau memejamkan mata dan sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan mata, namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain.


Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Kiyomizudera

Apa Itu G8 ??

G8 (Group of Eight – Kelompok Delapan) adalah koalisi dari delapan negara demokratis besar dan termaju di dunia. Kedelapan negara maju tersebut adalah :
a. Amerika Serikat,
b. Inggris (Britania Raya),
c. Italia,
d. Jepang,
e. Jerman,
f. Kanada,
g. Perancis, dan
h. Rusia.

Latar belakang pembentukan G8 bermula dari krisis minyak pada tahun 1973 yang melanda dunia dan terjadinya resesi dunia selanjutnya. Masalah-masalah tersebut membuat Amerika Serikat mendirikan kelompok bernama Library Group, yaitu sebuah perkumpulan yang terdiri dari para pejabat keuangan senior dari Amerika Serikat, eropa, dan Jepang, untuk mendiskudikan masalah-masalah ekonomi.
Pada tahun 1975, presiden Perancis saat itu, Valery Giscard d’Estaing, mengundang para kepala negara enam negara demokratis besar yang maju kepertemuan G6 (Group of Six – Kelompok Enam) yang pertama di Rambouillet dan menawarkan ide untuk adanya pertemua tetap. Para peserta setuju terhadap rencana pertemuan tahunan dengan jabatan kepresidenan kelompok tersebut yang bergilir, dan mendirikan apa yang dinamakan G6 (Group of Six – Kelompok Enam) yang terdiri dari Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris (Britania Raya).
Pada pertemuan kedua dilangsungkan di Puerto Riko, G6 mengubah nama mereka menjadi G7 (Group of Seven – Kelompok Tujuh) dengan bergabungnya Kanada.
Setelah berakhirnya pernag dingin, pada tahun 1991, Rusia (saat itu masih bernama Uni Soviet) mulai bertemu dengan G7 setelah pertemuan utama. Sejak pertemuan tahun 1998 di Birmingham, Inggris, Rusia diizinkan untuk turut serta lebih banyak, menandai terciptanya G8. meski demikian Rusia tidak mengikuti pertemuan untuk para menteri keuangan karena negara tersebut masih terhitung bukan merupakan kekuatan ekonomi yang besar di dunia.
G8 tidak didukung oleh pemerintahan transnegara, berbeda dari organisasi-organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Bank Dunia (World Bank). jabatan presiden G8 digilirkan antar negara-negara anggota setiap tahun, dengan masa bakti yang dimulai pada tanggal 1 Januari.
Peristiwa terpenting dalam G8 adalah adanya pertemuan ekonomi dan politik tahunan yang dihadiri para kepala negara dan pejabat-pejabat internasional, meski selain itu masih ada pertemuan-pertemuan dan penelitian-penelitian kebijakan lainnya yang lebih kecil. pertemuan para menteri yang berasal dari bidang-bidang seperti kesehatan, penegak hukum, dan tenaga kerja mendiskusikan masalah-masalah yang menjadi kekhawatiran antara negara anggota atau dunia. Dari seluruh pertemuan para menteri tersebut, yang paling terkenal adalah G7, yang membicarakan masalah keuangan.

Sumber : Buku Serba Tahu, penerbit : Pustaka Widyatama

Sejarah Nama-Nama Planet




Sejak zaman dahulu orang dari berbagai bangsa berusaha memberi nama planet-planet, terutama lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi, yakni Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus, yang dapat mereka lihat dengan mata telanjang.

Pada abad ke-6 sebelum masehi, bangsa Yunani menamakan Merkurius dengan nama Stilbon yang berarti cemerlang. Untuk Mars mereka sebut dengan Pyoroeis yang berarti berapi. Phaethom yang berarti berkilau untuk Yupiter. Dan Phainon yang berarti bersinar untuk Saturnus. Hanya untuk Venus bangsa Yunani memberikan dua nama, yaitu Phosphoros (pembawa cahaya) dan Hesperos (bintang sore). Hal itu karena bangsa Yunani menganggap Venus, yang senantiasa muncul pada pagi dan sore hari itu adalah dua planet yang berbeda.

Sekitar dua abad kemudian, abad ke-4 sebelum masehi, Aristoteles menamakan planet-planet tersebut dengan nama-nama dewa dalam mitologi. Merkurius disebutnya Hermes, Mars disebutnya Ares, Zeus untuk Yupiter, Kronos untuk Saturnus, dan Aphrodite untuk Venus.

Kebudayaan Romawi kemudian tampil ke puncak keemasannya setelah kebudayaan Yunani mulai meredup. Bangsa Romawi menamakan planet-planet tersebut sesuai dengan nama dewa-dewa mereka mengadopsi cara Aristoteles.




Adapun Uranus, nama planet ketujuh yang ditemukan, sebenarnya bukan nama dewa Roamawi, melainkan dewa Yunani. Bangsa Romawi tidak mempunyai nama padanan untuk dewa Uranus. Hanya saja Uranus tetap mereka berikan untuk nama planet ke-7 tersebut, mengingat Uranus adalah bapak dari Kronos (Saturnus).

Planet ke-8 diberi nama Neptunus, dewa laut dalam mitologi Romawi.
Palnet ke-9 diberi nama Pluto, nama dewa kebudayaan dalam mitologi Romawi yang menguasai dunia kematian. Nama Pluto diberikan mungkin karena planet tersebut sama gelap dan dinginnya dengan dewa Pluto. Selain juga misteri yang menyelimutinya.
Sebelum dinamakan Pluto, telah terdapat beberapa usulan nama untuk planet kecil tersebut, diantaranya Minerva, yang berarti dewi ilmu pengetahuan, dan Constante, yang merujuk pada nama pendiri observatorium tempat bekerja Clyde William Tombaugh, si penemu Pluto. Kedua usulan nama dan usulan nama-nama lainnya ditolak dan planet kecil tersebut tetap dinamakan Pluto.

Sejak tanggal 24 Agustus 2006, Pluto tidak lagi disebut planet, melainkan planer kerdil (Drawf Planet).

Sumber : Buku Serba Tahu, penerbit : Pustaka Widyatama