welcome ;)

Sabtu, 05 Maret 2011

Kagrra holds disbandment live concert + message from Isshi


On March 3rd, popular Visual Kei band Kagrra held a disbandment live concert at Tokyo’s Shibuya C.C.Lemon Hall, entitled “Shuuen~Sakura maifuru ano oka de~”.

After performing the band’s 23 songs, each member held back tears as they gave a message to their fans. Kagrra’s vocalist, Isshi, said, “This is an inexpressible feeling. I feel like I have said everything I wanted to say to you during these past 11 years. Please don’t forget a single word. Continue to experience different kinds of music even after this.” He concluded the band’s 11 years of activity, saying, “Today I announce our official disbandment, but I promise you that wherever you are, Kagrra is there with you.”



Kagrra performed all of the band’s 23 songs in their final live concert, including their first release, “Kotodama“, from their indie days, as well as the popular song “Sakura maifuru ano oka de“, which has come to represent the band. To prolong their final moments together, the band integrated their fans into the entire concert.

Kagrra was a Visual Kei band formed in 2000 with five members: Isshi (Vocals), Akiya (Guitar), Shin(Guitar), Nao (Bass), and Izumi (Drums). Earning popularity for their Japanese-style costumes and rock sound, the band had their major debut in 2004 with the single, “Urei“. Kagrra has produced 44 original works as a group, and they will surely be missed.


sumber : tokyohive.com

Lensa Kontak, Bantu yang Buta Melihat Kembali


ANDA pastinya sudah tahu kalau lensa kontak bisa menjadi pilihan kalau Anda malas menggunakan kaca mata. Selain itu, telah tersedia kontak lensa dengan berbagai variasi warna. Dengan begitu, Anda bisa membantu penglihatan sekaligus juga bergaya sesuai dengan warna yang Anda suka. Tapi, yang lebih menyenangkan lagi, para peneliti telah menemukan lensa kontak yang bisa membantu mereka yang buta untuk melihat kembali.

Para ilmuwan menggunakan lensa kontak yang dibalut dengan stem cell untuk mengembalikan penglihatan pasien-pasien penderita penyakit yang bersifat membutakan mata. Percobaan yang dilakukan peneliti, membawa perbaikan penglihatan yang signifikan hanya dalam waktu beberapa minggu.

Dalam prosesnya, para peneliti menggunakan sel-sel dari pasien tersebut untuk menyembuhkan kerusakan kornea, lapisan paling luar yang bersifat transparan dari mata. Prosedur ini dilakukan dengan sistem pembiusan lokal dan psien sudah bisa kembali ke rumah dalam waktu 2 jam pengoperasian. Karena itu, terang peneliti, pasien tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk menginap di rumah sakit.

Baik gangguan penglihatan yang diakibatkan oleh faktor genetik, operasi, terbakar, infeksi atau kemoterapi, dan pengobatan lainnya, biasanya melibatkan pencangkokan dan pemindahan serta obat-obatan seperti steroid.

Sedang tim dari University of New South Wales di Sydney memanfaatkan kekuatan stem cell, master cell yang mempunyai kemampuan berubah menjadi tipe-tipe sel lain. Para peneliti mengangkat sampel kecil stem cell dari mata 2 laki-laki dan perempuan yang menderita penyakit kornea. Sel ini selanjutnya ditanam pada lensa kontak. Selanjutnya, lensa kontak yang bersalut stem cell ini dimasukkan ke dalam mata pasien selama 3 minggu.

Berdasarkan laporan studi yang dipublikasikan di journal Transplantation ini, dalam selang waktu tersebut, stem cell akan melepaskan diri dari lensa kontak dan mulai menyembuhkan kerusakan pada kornea. Penggunaan sel-sel dari pasien itu sendiri, menurut peneliti, lebih memudahkan karena tidak perlu mencari pendonor. Selain itu, proses transplantasi tidak akan ditolak karena tubuh bisa menerima bagian dari selnya sendiri.

"Prosedur ini benar-benar sederhana dan murah," terang peneliti Dr Nick Di Girolamo, seperti dikutip situs dailymail. Berbeda dengan teknik lainnya, lanjut dia, cara ini tidak memerlukan produk-produk dari manusia atau hewan lain. Tapi, hanya memerlukan serum dari pasien itu sendiri dan hal ini benar-benar tidak bersifat menyerang.

"Tidak ada proses penjahitan, tidak ada operasi besar. Anda tidak memerlukan peralatan yang mahal," terang Girolamo.

Lensa kontak yang digunakan dalam operasi tersebut, telah digunakan secara luas setelah operasi mata. Para peneliti berharap teknik ini juga bisa digunakan pada bagian mata lainnya seperti retina, dan bahkan setiap bagian dalam tubuh.

"Jika kita bisa melakukan ini di mata, saya tidak menemukan alasan mengapa kita tidak bisa melakukannya di organ-organ utama lainnya seperti kulit, yang hampir bersifat sama dengan kornea," terang Girolamo.



SELENA GOMEZ HEARTS JAPANESE FASHION...





In an interview for Tokyo TV, Selena Gomez revealed just how much she loves Japanese fashion. Admittedly, she was in Japan, on Japanese TV, with quite a lot of Japanese people staring at her, but still, we think she was being genuine.

She told the hosts, "I did a lot of shopping... I bought a lot of clothes..." [We wish we were her right now] "... a lot of things you can't get in the States that you can find here." She added, "Everything is so perfect, it's hard to find the right size for me in the States".

So what did she buy? "A sweater that was really cute and long and boots that came with a bunch of little buttons."

Selena also discussed her friendship with Taylor Swift declaring they are best friends and do everything together.

She later revealed her secret love of country singing and.... rap. The Japanese hosts got rather excited by this whole rap scenario and started asking if her and Taylor could do some sort of rap duo. Conclusion: Japanese TV shows hosts are geniuses. Tay Swiz and MC Gomez should definitely, definitely get their rap on. A 'Love Story' remix ?! Hell yes.



sumber: www.sugarscape.com

Khasiat Daun Sirsak


Awal tahun 90-an ditemukan semacam ‘jamu herbal’ dari suku-suku (tribes) di Amazon yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit penting termasuk kanker. Setelah diteliti oleh para ahli farmasi dari AS, ternyata ramuan tersebut berasal dari daun pohon Graviola. Daun tersebut mengandung zat anti-kanker yang disebut Annonaceous Acetogenin, yang dapat membunuh sel-sel kanker tanpa mengganggu sel-sel sehat dalam tubuh manusia.

Industri farmasi tersebut mencoba mematenkan temuan ini, namun gagal karena bahan aktifnya murni berasal dari tumbuhan di alam, yang artinya milik masyarakat umum.

Ironisnya, hasil penelitian ini kemudian ‘dikubur’, karena dikhawatirkan dapat merugikan industri ‘chemotherapy’ yang pada saat itu merupakan alternatif terbaik uuntuk mengatasi penyakit kanker. Akibatnya sebuah obat anti-kanker yang sangat potensial dan murah menghilang untuk beberapa tahun sampai pada awal tahun 2000-an, salah seorang anggota tim peneliti farmasi tersebut membocorkan rahasia tersebut untuk membantu famili dekatnya yang terserang kanker.

Anggota famili tersebut sembuh dan menjadi bahan pembicaraan dokter-dokter yang merawatnya. Info ini kemudian tersebar luas dan diteliti ulang oleh para ahli farmasi/ kedokteran dari Korea dan Jepang. Hasilnya menakjubkan! Kini delapan jenis kanker sudah dapat diobati dengan daun Graviola ini.

Lalu tanaman apakah Graviola itu? Ternyata tanaman asli Amazon itu mempunyai nama Latin Annona muricata, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai SIRSAK !!!

Yaa…itulah, ternyata obat kanker yang murah dan mujarab tersedia secara gratis di pekarangan kita dan ironisnya tidak banyak orang yg tahu. Masalahnya adalah bahwa pengobatan dengan daun sirsak ini belum tuntas diteliti secara ilmiah, sehingga banyak orang farmasi/ kedokteran yang belum mengakui khasiatnya.

Dengan perkataan lain, masih merupakan pengobatan alternatif. Pasien yang berduit lebih memilih pengobatan kemoterapi untuk mengatasi penyakit kankernya, karena konon ‘lebih ilmiah’ (walaupun sangat sakit dan menderita) dan mereka mampu membayar mahal. Tapi bagi rakyat kecil yang tidak mampu membayar pengobatan yang mahal, kini ada alternatif pengobatan yang ‘tidak ada ruginya dicoba’, selain murah, juga mudah didapat.

Dosis yg pernah dicoba adalah:

10 helai daun sirsak yang telah hijau tua, direbus dengan 3 gelas air (600cc), dan dibiarkan hingga tersisa satu gelas air (200 cc). Setelah adem, lalu disaring dan diminum setiap pagi (ada beberapa pasien yang minum pagi-sore). Efeknya, perut akan terasa hangat/panas, lalu badan berkeringat deras.

Perlu diingat bahwa obat herbal ini tidak ‘ces-pleng’, artinya setelah minum rutin selama 3-4 minggu efeknya baru kelihatan. Kondisi pasien membaik, bisa beraktifitas kembali, dan setelah diperiksa lab/ dokter ternyata sel-sel kankernya mengering, sementara sel-sel lain yg tumbuh (rambut, kuku, dll) sama sekali tidak terganggu.


sumber: http://fitzania.com/daun-sirsak-membunuh-sel-sel-kanker

Senin, 17 Januari 2011

Junko Furuta (true story)


Pada tanggal 25 November, 1988 empat laki-laki, cowok A (17 thn), cowok B (18 thn), cowok C (16 thn), cowok D (17thn) menculik dan menahan Furuta, siswi kelas 3 SMA dari Misato, Saitama Prefecture, selama 44 hari. Mereka menjadikan dia tahanan di rumah yang dimiliki oleh orang tua cowok C, yang terletak di distrik Ayase dari Adachi,Tokyo.
Untuk mencegah pemburuan polisi, salah satu dari mereka memaksa Furuta untuk menelepon orangtuanya dan memberitahu mereka bahwa dia kabur dari rumah, tapi dengan"seorang teman" dan tidak dalam bahaya. Dia juga menyuruh Furuta untuk menyamar sebagai salah satu pacar dari salah satu diantara mereka ketika orang tua rumah tempat ia ditahan sedang ada dirumah, tetapi ketika sudah jelas bahwa orang tua C tidak akan memanggil polisi, mereka menyudahi sandiwara tersebut. Furuta mencoba melarikan diri beberapa kali, memohon pada orang tua C lebih dari sekali untuk membantunya, tapi mereka tidak melakukan apa pun, tampaknya karena takut kalau cowok A akan menyiksa mereka. Cowok A pada saatseorang pemimpin yakuza tingkat rendah dan telah membual bahwa ia bisa menggunakan koneksinya untuk membunuh siapa saja yang ikut campur.

Menurut laporan mereka di sidang mereka, mereka berempat memperkosa, memukulnya dengan batang logam dan klub golf, memasukkan bermacam-macam benda asing termasuk bola lampu ke dalam vagina, membuatnya minum urinnya sendiri dan makan kecoak,kembang api dimasukkan ke dalam anusnya dan meledakannya,memaksa furuta untuk masturbasi, memotong pentilnya dengan tang, menjatuhkan barbell ke perutnya, dan dibakar dengan rokok dan korek api. Salah satu dari pembakaran itu adalah hukuman karena berusaha untuk memanggil polisi. Pada satu titik lukanya sangat parah hingga menurut salah satu dari cowok itu butuh lebih dari satu jam untuk merangkak turun tangga untuk menggunakan kamar mandi. Ketika anak laki-laki tersebut menolak untuk membiarkan Furuta pergi, Furuta memohon pada mereka untuk "membunuhnya dan menyelesaikannya dengan cepat"

Pada tanggal 4 Januari 1989, dengan menggunakan alasan kalah main mahyong, mereka memukuli Furuta dengan barbell besi, menuang cairan ringan di kakinya,lengan, wajah dan perut, dan lalu membakarnya. Tak lama kemudian, Furuta meninggal pada hari itu juga karena shock. Keempat cowok itu menyatakan bahwa mereka tidak menyadari betapa parah luka dia, dan bahwa mereka mengira ia berpura-pura sakit.
Pada tanggal 5 Januari, para pembunuh itu menyembunyikan mayatnya di sebuah drum 55 galon diisi dengan semen, para pelaku membuang drum tersebut di sebidang tanah reklamasi di Koto, Tokyo.

Para cowok itu ditangkap dan disidangkan sebagai orang dewasa, tapi karena jepang menangani kejahatan yang dilakukan oleh yang masih dibawah umur, identitas mereka disembunyikan oleh persidangan. Tapi bagaimanapun juga, seminggu kemudian, majalah mingguan bernama shukan bunshun menerbitkan nama mereka, dengan menyatakan “hak asasi tidak dibutuhkan oleh penjahat biadab.” Mereka juga menerbitkan Nama asli furuta dan detail tentang kehidupan pribadinya dan menerbitkanya dengan sangat napsu di media. Kamisaku (cowok A) dituntut sebagai pemimpin para cowok itu, menurut persidangan.

Keempat cowok itu diberi keringanan dengan dinyatakanya bersalah dalam tuntutan “membuat luka fisik yang menyebabkan kematian”, dibandingkan tuntutan pembunuhan. Orang tua cowok A menjual rumah mereka dengan harga sekitar 50 juta yen atau 5 miliar rupiah dan membayarnya sebagai kompensasi untuk keluarga furuta.

Untuk partisipasinya di kejahatan ini, kamisaku harus menjalani 8 tahun di penjara anak-anak sebelum dia dibebaskan di bulan agustus 1999. di bulan juli 2004, kamisaku ditangkap karena mencelakai seorang kenalan, yang dia pikir membuat pacarnya menjauhi dia, dan dengan bangga membanggakan tentang keluarganya sebelum mencelakai kenalannya itu. Kamisaku dihukum 7 tahun dengan tuntutan memukuli.
orangtua junko furuta terkejut dengan kalimat yang diterima dari pembunuh anak perempuanya, dan bergabung dengan grup masyarakat melawan orangtua cowok C yang rumahnya dijadikan tempat menyekap. Ketika beberapa masalah ditimbulkan dari bukti (semen dan rambut yang didapat dari tubuh itu tidak cocok dengan para cowok-cowok yang ditangkap), pengacara yang menangani lembaga masyarakat memutuskan untuk tidak membantu mereka lagi karena merasa ga ada bukti berati ga ada kasus atau dakwaan. ada spekulasi bahwa bukti yang mereka dapat itu didapat dari orang tidak teridentifikasi yang memperkosa atau ikut mukulin furuta.

satu dari yang paling menggangu dari kisah nyata ini adalah bahwa para pembunuh furuta sekarang bebas. Setelah membuat junko furuta melalui berbagai penderitaan, mereka adalah cowok bebas sekarang.

Kasus ini menarik perhatian nasional terhadap hukuman dan rehabilitasi pelanggarmuda, terutama dalam konteks pemuda dibebankan sebagai orang dewasa, danmenjadi sensasi media.
Setidaknya dua buku bahasa Jepang telah ditulis mengenai insiden itu.
Sebuah film eksploitatif, Joshikōsei konkurīto-zume satsujin-Jiken (女子高 生 コンクリート 詰め 殺人 事件 Concrete-Encased High School Girl Murder Case?), dibuat tentang insiden ini oleh sutradara Katsuya Matsumura pada tahun 1995. Yujin Kitagawa (kemudian anggota musik duo Yuzu) memainkan peran biang kerok utama dalam film tersebut.
film lain, Beton (コンクリート?, AKA Schoolgirl in Cement), disutradarai oleh Hiromu Nakamura, dibuat pada tahun 2004 berdasarkan salah satu buku yang ditulis tentang insiden itu.
Pada tahun 2006, Visual Kei Jepang / band rock the GazettE merilis sebuah lagu di album NIL mereka yang berjudul "Taion" (Suhu Tubuh), lagunya adalah penghargaan bagi gadis itu.
Waita Uziga's "True Modern Stories of the Bizarre" meliputi cerita: Schoolgirl Pada Beton, berdasarkan kasus pembunuhan Junko furuta.

Minggu, 16 Januari 2011

Sakurajima




Sakurajima adalah sebutan untuk gunung api stratovolcano dan nama bekas pulau (sekarang sudah terhubung dengan daratan) di Prefektur Kagoshima, Kyushu, Jepang. Lelehan lava akibat letusan tahun 1914 menyebabkan Pulau Sakurajima terhubung dengan Semenanjung Ōsumi.

Nama lain untuk gunung api di Sakurajima adalah Ondake. Hingga kini, kegiatan vulkanis Sakurajima terus berlangsung, dan menyebarkan debu vulkanik dalam jumlah besar ke daerah sekelilingnya. Letusan sebelumnya membentuk dataran tinggi berpasir putih. Sakurajima adalah gunung api komposit. Gunung Sakurajima memiliki tiga puncak, Kitadake (Puncak Utara), Nakadake (Puncak Tengah), dan Minamidake (Puncak Selatan) yang masih sangat aktif hingga sekarang.

Sekarang ini, Puncak Utara ( Kitadake) adalah puncak tertinggi di Sakurajima, menjulang 1.117 m di atas permukaan laut. Gunung Sakurajima terletak di bagian Teluk Kagoshima yang dikenal sebagai Teluk Kinkō (錦江湾 Kinkōwan). Bekas pulau ini berada di bawah administrasi Kota Kagoshima. Sakurajima terhubung dengan daratan Semenanjung Ōsumi, membentuk sebuah tanjung yang luasnya sekitar 77 km².

Sakurajima terletak di Kaldera Aira yang terbentuk akibat letusan luar biasa 22.000 tahun yang lalu. Letusan melepaskan beberapa ratus kilometer kubik abu vulkanik dan batu apung, serta menyebabkan kantung magma di bawah kawah menjadi runtuh. Kaldera yang terbentuk akibat letusan memiliki lebar lebih dari 20 km. Tefrit jatuh hingga ke tempat yang jauhnya hingga 1.000 km dari gunung berapi ini. Sakurajima merupakan kawah baru untuk kaldera Aira yang masih aktif.



Sakurajima terbentuk oleh kegiatan vulkanis dalam kaldera Aira yang dimulai 13.000 tahun yang lalu. Gunung ini berada sekitar 8 kilometerer (5 mil) di sebelah selatan pusat kaldera. Letusan paling awal yang tercatat dalam sejarah terjadi tahun 963 M. Sebagian besar letusan Sakurajima adalah letusan stromboli, dan hanya mempengaruhi kawasan puncak, namun letusan plini yang lebih besar pernah terjadi pada 1471-1476, 1779–1782, dan 1914.

Kegiatan vulkanis di Kitadake sudah berhenti sekitar 4,900 tahun yang lalu. Letusan-letusan selanjutnya terjadi di Minamidake.

Letusan dimulai 12 Januari 1914. Selanjutnya sekitar satu bulan, Sakurajima berulang kali meletus dan mengeluarkan lava dalam jumlah besar. Lava yang ditumpahkan sekitar 1,5 km³ dan daerah yang tertutup lava mencapai sekitar 9,2 km². Lava mengalir hingga ke laut di bagian barat dan bagian tenggara Sakurajima. Selat selebar 400 m dengan maksimum kedalaman laut 100 m yang memisahkan Sakurajima dan Semenanjung Ōsumi teruruk oleh lava, dan Sakurajima terhubung dengan daratan Semenanjung Ōsumi. Abu vulkanis terbawa angin hingga ke wilayah Kanto yang jauh. Sebelumnya, Sakurajima merupakan gunung api yang tidur selama lebih dari satu abad hingga tahun 1914. Sebelum letusan 11 Januari, hampir semua penduduk sudah diungsikan dari Sakurajima setelah terjadi beberapa kali gempa bumi besar sebagai tanda letusan akan segera terjadi. Pada awalnya letusan bersifat sangat eksplosif hingga menyebabkan kolom erupsi dan aliran piroklastik. Namun setelah terjadi gempa besar 13 Januari 1914 yang menewaskan 35 orang, letusan berubah menjadi efusif dan menumpahkan aliran lava dalam jumlah besar. Lelehan lava flows jarang terjadi di Jepang. Kandungan magma yang tinggi silika menyebabkan erupsi gunung berapa di Jepang umumnya bersifat eksplosif. Hingga berbulan-bulan selanjutnya, Sakurajima terus menumpahkan aliran lava.

Sebagai akibatnya, luas Pulau Sakurajima bertambah setelah menelan beberapa pulau-pulau kecil di sekelilingnya, dan akhirnya terhubung dengan daratan di tanah genting yang sempit. Beberapa bagian dari Teluk Kagoshima menjadi lebih dangkal, dan berpengaruh pada pasang-surut yang menjadi lebih tinggi.

Pada tahap akhir erupsi, pusat Kaldera Aira tenggelam kira-kira 60 sentimeter (24 in) akibat penurunan tanah yang disebabkan kosongnya kantong magma yang berada di bawahnya. Berdasarkan fakta penurunan tanah terjadi di pusat kaldera, dan bukan secara langsung di bawah Sakurajima, diketahui bahwa magma gunung api ini berasal dari satu reservoir yang sama dengan erupsi zaman kuno yang membentuk kaldera.

Kegiatan vulkanis Sakurajima semakin aktif pada tahun 1955, dan sejak itu pula, Sakurajima terus menerus meletus secara teratur. Ribuan letusan-letusan kecil terjadi setiap tahunnya, melemparkan abu ke angkasa hingga di ketinggian beberapa kilometer di atas Sakurajima. Pos Pengamat Gunung Api Sakurajima didirikan pada tahun 1960 untuk memantau kegiatan terakhir Sakurajima.

Pemantauan gunung api ini dan prakiraan letusan skala besar yang akan terjadi berikutnya adalah sangat penting. Sakurajima terletak di wilayah yang sangat padat penduduk. Kota Kagoshima yang berpenduduk 680.000 orang hanya terletak beberapa kilometer dari gunung api ini. Pemerintah Kota Kagoshima secara teratur mengadakan latihan evakuasi, dan sejumlah lokasi pengungsian telah dibangun agar penduduk dapat mengungsi dari jatuhan tefrit.

Berkaitan dengan bahaya gunung api yang terus mengancam penduduk di sekitarnya, Sakurajima pada 1991 ditetapkan sebagai Gunung Api Dekade Ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui program Dekade Internasional untuk Pengurangan Bencana Alam.

Sakurajima adalah bagian dari Taman Nasional Kirishima-Yaku, dan lelehan lava di Sakurajima merupakan atraksi wisatawan. Di kawasan di sekitar Sakurajima dibangun sejumlah resor pemandian air panas. Produk pertanian utama dari Sakurajima adalah lobak sakurajima daikon yang berukuran sangat besar (beratnya hingga 29,6 kg), dan jeruk manis berukuran mini yang disebut shima mikan.

Pada 10 Maret 2009, Sakurajima kembali meletus, dan menghamburkan tefrit hingga radius 2 km. Letusan ini sudah diperkirakan sebelumnya setelah sepanjang akhir pekan terjadi serangkaian letusan yang lebih kecil. Letusan terakhir tidak memakan korban jiwa maupun benda.


http://id.wikipedia.org